Ditreskrimsus Polda Jateng Bongkar Pengoplos Elpiji Di Semarang Dan Soloraya

Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol. Hendra Suhartiyono di damping Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Agus Triatmaja Saat menunjukan barang bukti.

Semarang, JawaTengahNews.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng) berhasil membongkar jaringan pengoplos gas elpiji di wilayah Semarang dan Soloraya.

Dalam Penggerebekan, Polisi berhasil menangkap tiga pelaku yaitu Artya Brahman 32 th, di tangkap di rumah di perum Grand Marina Blok 8 Kota Semarang, 32, Sugeng Sanjaya, 34 th, warga Boyolali, dan Margono, 33 th, warga Sukoharjo. Ke tiga Tersangka ini merupakan jaringan terpisah di kota Semarang sedangkan Untuk Sukoharjo dan Boyolali merupakan satu jaringan. Jaringan ini beroperasi sejak tahun 2018 lalu, dan mampu meraup omzet mencapai ratusan juta rupiah.

Kombes Pol. Agus Triatmaja, Kabid Humas Polda Jateng, mengatakan modus dari para pelaku yaitu, dengan cara memindahkan isi tabung gas bersubsidi, ke tabung gas non-subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg.Para Pelaku mengoplos gas elpiji 3 kg ke tabung elpiji nonsubsidi dengan menggunakan selang regulator. Setelah itu, mereka memasang segel palsu untuk kemudian dijual dengan harga normal, kata Agus.

Agus menambahkan omzet masing-masing tersangka dalam menjalankan praktik illegal ini mencapai ratusan juta per bulan, tersangka Artya setiap bulan mendapat omzet Rp 100 juta, tersangka Margono Rp.250 Juta dan Tersangka Sugeng Rp. 280 Juta.

Para tersangka menjual harga gas yang telah dioplos itu lebih murah dibanding yang ada dipasaran. Harga tabung gas elpiji 12 kg yang dipasaran mencapai Rp175.000, mereka jual dengan harga murah sekitar Rp130.000-Rp140.000, dan keuntungan tersangka rata-rata sama yakni Rp. 30 Juta selama sebulan, imbuhnya.

Untuk mendapatkan tabung gas 3 kg, pelaku berusaha membeli dengan mendatangi toko-toko di sekitar wilayahnya.Untuk mengoplos tabung gas subsidi ke tabung gas ukuran 12 kg, mereka membutuhkan sekitar 4-5 tabung gas, dan takarannya tidak semuanya sesuai.Hasil tabung gas yang sudah di oplos kemudian dijual ke warung-warung yang ada di Semarang dan Kendal. Sedangkan yang di Sukoharjo dijual di Kartasura, Boyolali, dan Solo, ujar Agus.

Sementara itu, Kombes Pol. Hendra Suhartiyono, Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Jateng, mengatakan, menjelang Ramadan atau bulan puasa, kejahatan pengoplosan gas subsidi ke non-subsidi cukup marak terjadi.

Untuk menyikapi ini, pihaknya sudah mengambil langkah-langkah awal. Ada sanksi yang akan di terima, yakni sanksi pidana, Pengungkapan ini sebagai warning kepada mereka yang masih melakukan praktik semacam ini, kata Hendra.

Hendra menghimbau agar para tersangka berhenti melakukan hal ini, karena ini merupakan modus lama yang secara terus menerus selalu di gunakan.Praktek tersangka ini di duga menjadi salah satu penyebab kelangkaan Elpiji bersubsidi, pungkasnya.

Atas Perbuatanya, Ketiga tersangka dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) huruf a dan b UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 106 UU No.7/2014 tentang Perdagangan, dan Pasal 32 ayat (1) UU No.2/1981 tentang Metrologi Legal, dengan ancaman penjara minimal 9 tahun.(vt)

TULIS KOMENTAR

Isi komentar anda
Tulis nama anda disini